Belajar untuk Bilang “Nggak!”

Moon maap ini hari apa ya ? ini dah hari kamis lo, padahal “Ayo Nulis” dah dimulai dari senin.

Gimana gimana ? ada apa ini ? ayo nulis tuh apa ?

Jadi, kita bertiga (Mbak Ria, Andhira, sama aku) punya projek buat seneng-seneng sih. Lebih tepatnya supaya kita lebih rajin saja buat isi blog. Kenapa seneng-seneng? ya karena kita bertiga niatnya biar tetep nulis tapi versi enaknya gitu. Nggak ada aturan khusus untuk ini sih, buktinya aku aja baru mulai nulis nih. Nggak ada aturan buat berapa hari posting sih, terus harus berapa kata, atau apapun. Tapi, topiknya samaan gitu.

Ayo Nulis kita buat secara spontan dan ala kadarnya. Semua berawal dari Mbak Ria dan Andhira yang nemuin topik-topik ringan buat nulis. Seperti 30 hari bercerita gitu lewat twitter. Nggak ada aturan khusus, cuma kita terbantu sama topik yang udah ditentukan. Dan kita bertiga akhirnya sepakat buat nulis di blog aja. Gitu . . .

Yah, supaya rajian ajah ngeblognya. Bahasannya juga ringan-ringan seperti topik-topik di atas. Nah, topik pertama ini tentang mendeskripsikan kepribadian diri. Emm mayan susah sih haha. Yuk mulai saja!

Kalau ngomongin kepribadian diri sendiri susah bener ya, mungkin kalian bisa menyimpulkan dari setiap curhatanku ? wkwkwkw . Aku nih orangnya kek gimana ? haha. Emang ngomongin diri sendiri tuh rada susah ya, tapi yang pasti Vera anaknya ya gini nih. Semua tercermin dari setiap tulisan curhatanku di blog.

Tapi, aku sangat menginyakan bahwa salah satu kepribadianku satu ini ternyata sudah ku pupuk lama. Setelah menonton dan baca ulasan buku dari Sophia Mega makin-makin deh “eh bener juga ya!”. Dari buku “How To Stop Feeling Like Sh*t” yang dia ulas di youtube dan blognya aku benar-benar menyadari bahwa aku adalah orang yang sering mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi. Intinya seperti punya tanggung jawab untuk membahagiakan orang lain. Nggak berani/nggak bisa/ nggak pernah mau untuk bilang “nggak” ke orang lain alias sungkanan kalau orang Jawa bilang. Kalian bisa tonton dan baca di sini plus di sini ya.

Dari ulasannya juga, aku dapat pelajaran (walau belum baca bukunya) bahwa orang lain bukanlah tanggung jawab kita! bahwa ada saatnya aku harus bersikap tegas pada diriku sendiri yang susah untuk bilang “nggak” untuk sesuatu yang tak kuhendaki atau tak kusuka.

Dari tahuh aku benar-benar banyak belajar soal suatu hubungan. Makin ke sini juga lingkaran pertemananku juga makin luas. Aku makin tahu banyak kepala yang nggak sama, semua berbeda. Aku juga nggak akan pernah bisa menjadi apa yang mereka mau atau harapkan. Aku yang dari dulu anaknya nggak pernah bisa nolak, ini menjadi masalah besar. Ini nggak baik untukku, malahan justru menjadi beban dan masalah-masalah lain untukku.

Tapi, dua tahun ini aku bersyukur banget karena bertemu dengan berbagai kepala dan berbagai karakter (di luar duniaku seperti biasa). Yah aku keluar zona nyaman dengan mau dan sering ketemu orang baru. Justu dengan ini aku makin tahu isi kepala mereka, bagaimana karakter mereka, jadilah ini mengasalah diri untukku berani untuk bilang “nggak!”. Walau semua nggak berjalan mulus, walau aku nggak bisa langsung berubah, tapi setidaknya aku belajar banyak dari masing-masing mereka.

Aku banyak menemukan kalimat ini You can’t control others, what you can do is control yourself. Itu kudapatkan dari buku yang aku baca, dari media sosial, dari pembaca blogku dan teman-temanku. Aku hanya bisa mengontrol diri sendiri, bukan mereka! dan setiap dari mereka adalah bukan tanggung jawabku. Aku hanya akan menjadi diri sendiri, tidak memaksakan hal yang sebenarnya nggak aku suka, nggak nyaman, bahkan sangat ku benci.

Segitu saja deh keknya . . .

Emang ujung-ujugnya curhat hahaha . . .

Baca juga milik Mbak Ria : Introver yang Belajar Keluar dari Kandang

Baca juga milik Andhira : My Personality: Seorang ENFJ yang Enggak ENFJ ENFJ Amat

8 thoughts on “Belajar untuk Bilang “Nggak!”

  1. Memang ada waktunya kapan kita hrs bilang GA :). Dulu pas masih jd anak baru di tempat kerja, ya mau ga mau msh ngikutin apapun yg dibilang senior utk dikerjain :p. Tapi lama2, setelah tau job desk ku apa, prioritasku apa, aku mulai berani nolak utk melakukan yg tidak termasuk dalam job desk apalagi yg menyimpang dari SOP nya. Kalo dipaksa apalagi pake ancaman ntr performancemu jadi jelek loh, aku bisa lapor ke bagian Confidential Staff untuk mereka tindaklanjuti.

    Ngelakuin sesuatu buat org lain, boleh2 aja. Asal ga mengganggu kerjaan kita sendiri, dan ga menyimpang dari aturan. Kalo 2 poin itu aja ga terpenuhi, pasti aku tolak :).

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s