Tentang Sebuah Pekerjaan

Selang beberapa menit lalu, saya menonton sebuah vidio di youtube. Pasangan muda ini juga menjadi salah satu favorit saya ketika berkunjung ke youtube. Dalam sebuah vidio yang mereka unggah 3 hari lalu, mereka berdiskusi mengenai suatu topik yang menarik perhatian saya. 

Mengapa manusia suka mengukur menusia lain hanya dari apa pekerjaannya dan berapa besar gajinya. 

Sontak saya mengiyakan, berpikir untuk beberapa lamanya. Saya mengalaminya, lebih tepatnya saat ini. Saat di mana saya sudah tak lagi bekerja yakni mengajar.

Sudah hampir satu bulan ini saya memiliki aktivitas lain. Yang perlu digaris bawahi, saya  sudah tak mengajar di sebuah sekolah. Singkatnya, kemarin saya benar-benat resmi keluar dari sekolah karena sudah ada guru pengannti. 

Balik lagi mengenai topik diskusi dari mbak Vina dan mas Sakti, saya  berpikir hal sama. Memang kebanyakan orang mengukur kelas sosial dari sebuah pekerjaan. Terlebih banyaknya gaji yang diperoleh.

Misalnya, gaji rendah berarti pekerjaannya pun pada tingkat rendah atau tak bergengsi. Sebut saja tolak ukurnya adalah pekerja kantoran ataupun pegawai bank. Beda halnya dengan orang-orang yang bekerja sebagai pelayan atau pegawai toko. Betapa sering dianggap remeh. Ini saya hanya mengibaratkan saja.

Saya menyadari ini, ketika saya sudah tak mengajar yang menjadi potakan berkelas atau tidaknya seseorang atau tolak ukur manusia akan menusia lain yakni sebuah pekerjaan. Padahal saya kerja lo, bedanya saya ngajar di bimbel.Ya memang saya tak pakai seragam, baju bebas, dan terkadang pakai sandal. Saya juga ndak pakai tas ransel sekolah, saya hanya pakai totabag.

Tapi saya masih ngerasa yang menjadi patokan kesuksesan itu ya ketika saya bekerja di sekolah. Berangkat pagi, pulang sore. Wong ya saya keluar dari sekolah beberapa alasan di antaranya karena saya sering mengeluh capek dan jenuh. 

Jika boleh jujur, masalah gaji yaa. Enakan ngajar di bimbel, gajinya lebih gede. Apa dikata jadi guru sukuan itu menang pamor doang. Oh dia seorang guru ya waw, tapi sebenarnya songkongan hidup itu kurang sekali. Tapi saya tegaskan, saya keluar bukan karena gaji. Saya juga tak pernah mempermasalahkan gaji.

Apa salah jika seorang saya, sarjana pendidikan tak mengajar di sebuah sekolah. Kerjaan saya tiap paginya hanya bersantai di rumah, baru saya mulai ngajar bimbel sore hingga malam.

Mungkin sebagian mereka tak paham, bahwa tanggung jawab saya sebagai tentor justru lebih berat dari guru di sekolah. Anak sekarang lebih menunjukkan keseriusannya ketika bimbel, berbeda dengan di sekolah. Berlomba mencari-cari tempat bimbel bagus, ternama, dan berkualitas.

Yang inti kesemua itu, saya memang harus bekerja ekstra. Memberikan materi tambahan yang belum mereka dapat dari sekolah. Saya bertanggung jawab betul atas perolehan prestasi mereka nantinya. Itu berat lo, beban juga. 

Kita tak boleh melabelkan macam pekerjaan seseorang. Semua pekerjaan itu berat, semua pekerjaan itu punya porsinya masing-masing.

Hari ini memang benar, saya ibarat sarjana nganggur. Bangun siang, kerjaanya cuma beres-beres rumah, makan, dan tidur. Padahal bukan seperti itu, saya malah punya tanggung jawab besar akan diri saya sendiri.

Tanggung jawab untuk sekarang dan nanti yakni masa depan saya. Saya tak lantas bersantai, justru banyak setumpuk beban yang sedang saya tanggung. Ada setumpuk cita dan harapan yang sedang saya rajut. 

Kok di rumah? Nggak ngajar?

Loh cuma ngelesi aja? 

Ngelesi (ngajar di bimbel)

Kenapa juga keluar dari sekolah? 

Kenapa nggak dibetahin aja? ditelateni biar dapat NUPTK dulu. 

Ntar kalau nggak ngajar nggak bisa daftar PNS dong

Mendengus diam. 

40 thoughts on “Tentang Sebuah Pekerjaan

      1. iya tuh ver banyak banget samanya yaa….., namun aku tidak pernah menulis artikel tentang bimbel, takut di baca pak boss..hihi, dianya suka kelayapan di internet dan mengintip aku kalau sedang blogwalking.

        Hmm jangan jangan kita berjodohh, eaak eaakkk πŸ™‚

        Like

      2. Aku juga gg punya temen kerja yng punta mint nulis, syukur deh hee. Dan aku juga gg pengen mereka tahu hiii

        Wah wah, aku hrus ngucap syukur nih 😁

        Like

  1. Sebenernya, apapun pekerjaan kita pasti ada aja yang komen : kenapa gak kerja ini, kenapa gak itu, kenapa gak ini, kenapa gak itu. Orang lain memang terlalu banyak ingin tahu. Kita mah jawab aja udah, ya paling capek aja sih hahahahaha.

    Liked by 2 people

  2. ya begitulah, kak. gak akan ada habisnya deh kalau dengerin kata orang atau menjadi seperti yang orang mau.
    semangat, kak. karena Allah sudah menggariskan bahagia buat masing-masing hambanya.

    Like

  3. Sama-sama cari duit buat memenuhi kebutuhan sehari2 & menyambung idup kenapa pada berisik amat yaaa org org :s huhh. Btw kok w jd emosi bacanya ://

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s